Patung-patung tertinggi di Indonesia

Ada beberapa patung besar yang terdapat di Indonesia, tapi saya hanya akan menulis beberapa yang menarik perhatian saya.

1. Garuda Wisnu Kencana

















Garuda Wisnu Kencana merupakan patung Dewa Wisnu yang sedang mengendarai garuda. Patung ini nantinya setelah selesai akan menjadi patung terbesar dunia dengan tinggi 75 meter dan lebar 60 meter dan akan mengalahkan patung liberty.


2. Monumen Jalesveva Jayamahe

















Monumen Jalesveva Jayamahe yang terletak di ujung Utara Surabaya merupakan patung dengan sosok Perwira TNI Angkatan Laut. Kata Jalesveva Jayamahe itu sendiri merupakan semboyan dari TNI-AL yang memilki arti di laut kita jaya. Ketinggian keseluruhan monumen ini mencapai 60,6 m.


3. Patung yesus memberkati Menado

















Patung Yesus Memberkati merupakan patung Yesus tertinggi di kawasan Asia sampai Eropa dan kedua tertinggi di dunia setelah "Christ the Redeemer Statue" (Patung Kristus Penebus di Brazil). Patung ini memiliki tinggi 30 meter dan 20 meter untuk penopang. Patung ini terletak di kota Menado, Sulawesi Utara.


4. Patung Pancoran

















Sebenarnya patung ini bernama Patung Dirgantara yang menggambarkan manusia angkasa, yang berarti menggambarkan semangat keberanian bangsa Indonesia untuk menjelajah angkasa. Tinggi patung 11 meter, sementara tinggi voetstuk (kaki patung) 27 meter. Patung ini terletak di Jalan Jenderal Gatot Subroto, Jakarta.


5. Patung Dewi Kwan Im

















Patung Dewi Kwan Im ini merupakan Patung Dewi Kwan Im tertinggi di Indonesia dengan tinggi 22,8 meter. Patung ini terletak di Pematang Siantar, Sumatera Utara.



SelengkapnyaPatung-patung tertinggi di Indonesia

Kota yang Hilang dari Negeri Pushtun

Pakistan adalah negara yang kaya dengan sejarah. Negeri Phustun ini punya warisan sejarah sejak zaman Mohenjodaro-Harappa. Salah satu objek wisata yang misterius untuk wisatawan adalah kota yang hilang, Taxila.

Objek wisata dini terletak 30 km di barat daya Islamabad, Pakistan. Taxila adalah sebuah kota yang dibangun oleh raja dari India sekitar abad ke-7 SM.



Quote:



Wisatawan bisa melihat relief dari sisa bangunan di Taxila
Taxila atau Takshashila adalah kisah mengenai 3 kota yang hilang sekaligus. Kota pertama dibangun di atas bukit yang bernama Bhir Mound.

Karena persengketaan dan konflik di dalam masyarakat saat itu, Taxila hancur dan pindah ke tempat baru bernama Sirkap. Kota ini dibangun oleh bangsa Yunani yang menaklukkan penduduk setempat.

Quote:



Bekas benteng dan gerbang masuk di Taxila
Bangsa Yunani memajukan peradaban Sirkap dengan filsafat dan seni. Bangsa Kushans kemudian datang dan menaklukan Sirkap dan membangun Taxila ketiga bernama Sirsukh. Pada akhirnya kota ini dihancurkan bangsa Huns dari Mongol pada abad ke-6 dan ditinggalkan menjadi reruntuhan.

Kini, wisatawan bisa mengunjungi sisa-sisa dari kota yang hilang ini. Reruntuhan bangunan, sisa pondasi, relief dan sisa pelataran bangunan masih ada di sini.


Ada Taxila Museum yang menyimpan segala jenis artefak pada zaman Taxila sedang jaya-jayanya. Dengan melihat artefak ini, wisatawan bisa memahami sejarah yang kompleks dari kota yang pernah mahsyur ini.

Jika ingin berwisata ke Taxila, wisatawan disarankan datang pada bulan Maret atau November. Musim dingin akan terlalu menggigil di sini, sementara pada musim panas hawanya terlalu menyengat dan terlalu banyak hujan pada musim gugur.

Sumber
SelengkapnyaKota yang Hilang dari Negeri Pushtun

Suhu Terpanas Pernah Terjadi di Zaman Firaun


Studi terbaru yang dilakukan peneliti dari Amerika Serikat, mengungkap bahwa di zaman Firaun (ribuan tahun lalu) iklim dunia mencapai titik terpanas ketimbang suhu Bumi saat ini.


Dilansir Theregister, Rabu (13/3/2013), studi terbaru ini didukung oleh National Science Foundation untuk mengungkap suhu Bumi di masa lalu. Metode analisis ini meliputi serbuk sari kuno, inti es, kerang dari organisme laut dan sebagainya.



Salah satu hasil temuan dari penelitian ini ialah, terungkap bahwa temperatur sejak tahun 2000-2009 belum melebihi suhu terpanas dari awal zaman Holosen (5000 hingga 10 ribu tahun lalu). Wikipedia menerangkan, Holosen merupakan skala waktu yang berlangsung antara 9560 sampai 9300 sebelum masehi.



"Dalam 100 tahun terakhir, peningkatan karbondioksida melalui emisi meningkat dari kegiatan manusia," ungkap peneliti Shaun Marcott dari Oregon State University. Diyakini sekira 5000 tahun lalu, Bumi diketahui lebih hangat ketimbang saat ini.



Ilmuwan percaya bahwa terdapat "periode hangat abad pertengahan" yang terjadi sekira seribu tahun lalu. Ilmuwan dari Johannes Gutenberg-Universitat di Mainz, Jerman juga pernah meneliti tentang suhu Bumi ribuan tahun lalu.



Beberapa ilmuwan setuju tentang hasil temuan Marcott. Mereka mengatakan, di zaman pertengahan (Medieval) dan Romawi suhu Bumi menghangat. Dalam penelitian lain, diyakini bahwa pemanasan global diharapkan hanya berlangsung dalam abad ini, yang menandakan meningkatnya permukaan laut pada skala meter atau lebih hingga tahun 2100.
SelengkapnyaSuhu Terpanas Pernah Terjadi di Zaman Firaun

Benua Misteri Superkontinent


Dr Graeme Eagle dari Departemen Ilmu Pengetahuan Alam Royal Holloway, Universitas London, mengungkapkan bagaimana sebuah benua yang paling besar pernah ada, mengalami kepunahannya.
Gondwana adalah sebuah superkontinen (benua raksasa) yang pernah ada di antara 500 dan 180 juta tahun yang lalu. Selama masa empat dekade lalu, para ahli geologi telah mendiskusikan bagaimana Gondwana mengalami kehancuran. Skenario yang banyak berkembang dapat dikelompokkan ke dalam dua kelompok pemikiran – satu teori menyatakan bahwa benua tersebut terpisah menjadi beberapa lempeng kecil, dan teori kedua mengklaim bahwa pecahnya benua tersebut menjadi beberapa lempeng besar. Dr Eagles, bekerjasama dengan Dr Matthais Konig dari Institut Alfred Wegener untuk Riset Kutub dan Angkatan Laut di Bremerhaven, Jerman, telah memikirkan suatu model komputer yang baru yang mampu menunjukkan bahwa superkontinen pecah ke dalam dua potongan, terlalu berat untuk menopangnya secara bersamaan.

Gondwana terdiri dari sebagian luas wilayah di bagian Selatan Belahan Bumi masa kini, yang meliputi Antartika, Amerika Selatan, Afrika, Negeri Madagaskar, Australia, Papua Nugini dan Selandia Baru, sedangkan Arab dan India merupakan anak benua dari bagian Utara belahan bumi tersebut. Berkisar antara tahun 250 dan 180 juta tahun yang lalu, semua itu membentuk superkontinen tunggal yang disebut “Pangea”.


Bukti menyatakan bahwa Gondwana mulai pecah sekitar 183 juta tahun yang lalu. Analisis magnetis dan data anomali gravitas dari beberapa pecahan Gondwana pertama adalah patahan zone wilayah di Mozambique dan Laut Riiser-Larsen sampai Antartika. Dr Eagle dan Dr Konig yang merekonstruksi alur masing-masing bagian dari pecahan-pecahan Gondwana yang terpisah itu. Model komputer mengungkapkan bahwa superkontinen dibagi menjadi hanya dua plat besar, barat dan timur. Kira-Kira 30 juta tahun kemudian, dua plat ini mulai berpisah membentuk benua yang kita kenal seperti pada bagian selatan belahan bumi masa kini.

Menurut Dr Eagle dan studi Dr Konig, dikarenakan superkontinen seperti Gondwana memiliki gaya gravitasi yang tidak stabil dengan samudera dan mempunyai kulit keras dan tebal pada bagian dalam, maka dengan cepat gondwana mulai roboh ke bawah karena beban mereka sendiri.

Dr Eagles menyatakan, “Penemuan ini merupakan titik awal untuk melakukan riset yang lebih akurat dan teliti terhadap superkontinen tersebut. Model baru terhadap posisi India dan Sri Lanka di Gondwana yang secara lebih luas telah digunakan untuk masa 40 tahun yang lalu, menempatkan mereka pada posisi yang sangat berbeda di superkontinen itu. Perbedaan ini mempunyai konsekuensi pada pemahaman kita terhadap Bumi

Sumber
SelengkapnyaBenua Misteri Superkontinent

Bagaimana Cara Astronom Menentukan Usia Sebuah Bintang?

Bagi kebanyakan orang, bila kita melihat bintang di langit, tentunya kita mendapatkan bahwa semua bintang hampirlah serupa satu sama lain, yaitu bola gas yang berpijar kemerlap. Pertanyaannya adalah, bagaimanakah kita tahu berapa usia bintang itu? 

http://www.le.ac.uk/physics/faulkes/web/images/stars.jpg


Belum lama ini, astronom telah mendapatkan sebuah metode untuk menentukan usia bintang secara akurat dari mengamati bagaimana bintang itu berotasi. Bagaikan sebuah gasing yang diputar di atas meja, maka seberapa cepat atau lambat bintang itu berotasi dapat menjadi penentu waktu berapakah usia sebuah bintang. 


Hal tersebut disampaikan oleh astronom bernama Soren Meibom dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics pada pertemuan American Astronomical Society ke 218. 


Mengapa para astronom perlu memahami usia sebuah bintang? 
Kajian usia bintang mempunyai peran yang sangat penting pada berbagai studi di astronomi, secara khusus tentunya bagi pencarian planet-planet di luar Tata Surya, mempelajari bagaimana pembentukannya, perkembangannya, dan mengapa setiap sistem keplanetan yang telah ditemukan begitu unik satu dengan yang lainnya.



Dengan mengetahui usia bintang, maka kita dapat menentukan usia planet-planetnya, serta apakah mungkin ada kehidupan yang sempat tumbuh di luar sana. 


Semakin tua usia planet, semakin besar kemungkinan kehidupan terbentuk, karena sebagaimana yang telah diketahui sistem keplanetan yang berada pada sebuah bintang biasanya terbentuk bersamaan dengan kelahiran bintang itu sendiri. 


Mengetahui usia bintang cenderung mudah untuk ditentukan apabila bintang yang akan diukur itu berada di dalam sebuah sistem gugus bintang. 


Adalah pengetahuan dasar bagi astronomi untuk mendapatkan hubungan warna dan kecerlangan bintang-bintang di dalam gugus guna menentukan usia gugus, akan tetapi kondisinya akan menjadi sangat sulit apabila bintang yang akan ditentukan usianya tidak berada dalam satu sistem gugus. 


Sebagaimana bintang-bintang yang telah ditemukan mempunyai sistem keplanetan, kebanyakan tidak berada di dalam gugus, sehingga menentukan usianya menjadi tantangan tersendiri dalam studi astronomi. 


Penelitian yang dilakukan oleh Meibon dkk mempergunakan pengamatan dari wahana Kepler, dengan melakukan pengukuran rasio rotasi pada sebuah gugus berusia 1 milyar tahun yang disebut sebagai NGC 6811. 
http://langitselatan.com/wp-content/uploads/2011/05/trueage.jpg

NGC 6811


Nilai ini hampir mencapai dua kali lipat dari penelitian sebelumnya, dan usia sekitar itu masih dikatakan penyelidikan pada gugus muda. 

Penelitian ini memberi pemahaman baru pada hubungan rasio rotasi bintang dengan usianya. Jika kesahihan hubungan rotasi bintang dan usia dapat diperoleh, maka pengukuran periode rotasi bintang dari setiap bintang dapat dipergunakan untuk menentukan usianya – sebuah teknik yang disebut sebagai gyrochronology, tetapi hal ini tidak serta merta dapat dipergunakan. 


Sebagaimana sistem waktu di Bumi yang memerlukan standar, maka sistem penentuan waktu (usia) tersebut harus dapat dikalibrasikan kepada sebuah standar. 

Sebagaimana kita di Bumi menyatakan bahwa satu tahun terdiri dari 365 hari, dst, maka agar dapat mendapat kesesuaian waktu, harus dapat diperoleh sebuah kestandaran. 

Untuk itu, maka langkah pertama yang para peneliti itu lakukan adalah memulai dari pengukuran sebuah sistem gugus yang telah diketahui usianya. 


Dengan mengukur rotasi pada bintang-bintang anggota gugus, dapat dipelajari rasio putaran bintang-bintangnya untuk menentukan usia-usianya. Pengukuran rotasi bintang anggota gugus pada usia yang berbeda dapat menghubungkan antara putaran dan usianya. 


Untuk dapat mengukur putaran bintang, astronom harus mendapatkan perubahan kecerlangan bintang akibat adanya bintik bintang pada permukaan bintang, sebagaimana bintik Matahari pada permukaan Matahari. 
http://images.iop.org/objects/phw/news/15/5/32/star2.jpg


Bila ada bintik terbentuk pada permukaan dan berada pada arah ke pengamat, maka bintang akan mengalami sedikit peredupan, sampai ketika bintik itu menghilang, dan bintang kembali sedikit lebih cerlang. 

Dengan menentukan berapa lama bintik itu berotasi pada permukaan bintang, maka dapat ditentukan berapa cepat bintang yang diamati berotasi. 


Tentunya perubahan kecerlangan bintang akibat bintik adalah sangat-sangat kecil, lebih kecil dari satu persen dan menjadi lebih kecil lagi pada bintang yang lebih tua. 

Dengan demikian pengukuran rotasi bintang pada bintang-bintang yang lebih tua dari setengah milyar tahun tidak dapat dilakukan dari permukaan Bumi dikarenakan gangguan atmosfer Bumi. 


Tetapi permasalah itu saat ini telah dapat diatasi mempergunakan pengamatan wahana Kepler, karena wahana itu telah dirancang guna mengukur kecerlangan bintang dengan sangat presisi guna penentuan adanya sistem keplanetan pada bintang-bintang. 

Tentunya menentukan hubungan usia-rotasi pada kasus NGC 6811 ini bukanlah pekerjaan mudah bagi Meibom dkk karena mereka telah menghabiskan waktu empat tahun menentukan bintang-bintang anggota gugus atau kebetulan bintang lain yang berada pada arah pandang yang sama. 


Hal ini dilakukan mempergunakan peralatan yang disebut Hectochelle yang terpasang pada teleskop MMT di Mt. Hopkins Arizona selatan. Alat Hectochelle dapat mengamati 240 bintang secara bersamaan, dan dengan demikian telah mengamati sekitar 7000 bintang selama empat tahun pengamatannya. 

Setelah mengetahui bintang-bintang yang merupakan anggota gugus, maka selanjutnya data dari Kepler dipergunakan untuk menentukan seberapa cepat bintang-bintang itu berputar. 

Mereka menemukan periode rotasi antara 1 sampai 11 hari (yang lebih panas dan masif berputar lebih cepat), dibanding dengan Matahari yang rasio putarannya hanya 30 hari. 


Yang paling penting dari temuan mereka adalah adanya hubungan massa bintang dengan rasio rotasi dengan sebaran data yang kecil. Temuan ini mengkonfirmasi bahwa gyrochronology adalah metode baru yang dapat dipergunakan untuk mempelajari usia sebuah bintang. 


Tim Meibom saat ini berencana untuk mempelajari sistem gugus yang lebih tua guna mengkalibrasi penentu waktu bintang mereka. Ini tentunya merupakan langkah yang lebih sulit karena bintang yang lebih tua berputar lebih lambat dan memiliki lebih sedikit bintik-bintik, yang artinya perubahan kecerlangannya akan sangat-sangat kecil. 


Pekerjaan Meibom dkk itu telah menjadi sebuah lompatan dalam pemahaman pada bagaimanakah bintang-bintang di langit (termasuk Matahari) bekerja, demikian juga pada pada pemahaman sistem keplanetan di bintang-bintang yang jauh.

SelengkapnyaBagaimana Cara Astronom Menentukan Usia Sebuah Bintang?
 
Follow @JuruKunciBlog