7 Ciri-Ciri Rumah Tangga Islami


1)  Didirikan Atas Dasar Ibadah


Rumah tangga didirikan dalam rangka ibadah kepada allah, dari proses pemilihan jodoh, pernikahan (akad nikah, walimah) hingga membina rumah tangga jauh dari unsur kemaksiatan atau yang tidak islami. Sebagaimana peran kita di muka bumi ini yang hanya untuk mengabdi/beribadah kepada allah, maka pernikahan ini pun harus diniatkan dalam rangka tsb. Beberapa pola yang tidak islami, pemilihan jodoh tidak berdasarkan diennya (agamanya), proses berpacaran, pemilihan hari "baik" untuk kegiatan pernikahan, sebelum pernikahan ada kegiatan widodareni atau mandi air kembang dan dalam kegiatan walimahan ada upacara (adat) injak telur dan buang-buang beras (s.a.weran).

2)  Terjadi Internalisasi Nilai Islam Secara Kaffah (Menyeluruh)



Dalam rumah tangga islami segala adab-adab islam dipelajari dan dipraktekan sebagai filter bagi penyakit moral di masa globalisasi ini. Suami bertanggung jawab terhadap perkembangan pengetahuan keislaman dari istri, dan tolong-menolong menyusun kegiatan bagi pendidikan anakanaknya. Saling tolong-menolong dan saling mengingatkan untuk meningkatkan kefahaman dan praktek ibadah. Oleh karena itu suami dan istri seharusnya memiliki pengetahuan yang cukup memadai perihal islam.

3)  Terdapat Qudwah (Keteladanan) Suami atau Istri yang dapat dicontoh oleh Anak-anak



Setiap hendak keluar atau masuk rumah anggota keluarga membiasakan mengucapkan salam dan mencium tangan, merupakan pola yang akan membekas pada bawah umur sehingga mereka tidak canggung mengucapkan salam ketika telah dewasa. Bagaimana mungkin anak akan menegakkan sholat diawal waktu, sementara orang tuanya asik melihat tv pada ketika azan berkumandang (ini pola yang buruk).
Keluarga islami merupakan pola teladan di lingkungannya, selalu nilainilai aktual saja yang terlontar dari para tetangganya kalau membicarakan rumah tangga ini. Hal ini mampu terjadi kalau adanya contoh-contoh yang islami dilakukan serta silaturahmi ke tetangga yang intensif.

4)  Adanya Pembagian Tugas yang sesuai dengan Syariat



Islam menunjukkan hak dan kewajiban masing-masing bagi anggota keluarga secara sempurna dan manusiawi. Seperti yang tercantumkan dalam firman allah:
"dan janganlah kau iri hati terhadap apa yang dikaruniakan allah kepada sebagian kau lebih banyak dari sebagian yang lain. (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada allah sebagian dari karunia-nya. Sesungguhnya allah maha mengetahui segala sesuatu." (qs. 4:32).

Suami atau istri harus faham apa kewajiban dan haq nya, sehingga tidak terjadi pertengkaran karena masing-masing hanya menuntut haknya terpenuhi tanpa melaksanakan kewajibannya. Islam telah mengatur keseimbangan haq dan kewajiban ini, apa yang menjadi kewajiban suami yaitu haq istri, dan begitu pula sebaliknya. Kewajiban suami tidak bias dilakukan secara optimal oleh istri, begitu pula sebaliknya.

5)  Tercukupnya Kebutuhan Materi Secara Wajar



Suami harus membiayai kelangsungan kebutuhan bahan keluarganya, karena itu salah satu peran utamanya. Seperti yang tercantum dalam al quran surat al baqarah, Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf.

6)  Menghindari Hal-hal yang tidak Islami



Banyak kegiatan atau barang-barang yang tidak islami harus disingkirkan dari dalam rumah, misalnya penghormatan kepada benda-benda keramat, memajang patung-patung, memasukkan ke rumah majalah/koran/video atau jalan masuk internet dan tv (ini yang susah) yang tidak islami, bergambar mesum dan belahan kekerasan, memperdengarkan lagu-lagu yang tidak menambah keimanan.

7)  Berperan dalam Pembinaan Masyarakat



Keluarga islami harus menunjukkan kontribusi yang cukup bagi perbaikan masyarakat sekitarnya :"serulah (manusia) kepada jalan rabbmu dengan pesan tersirat dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.sesungguhnya rabbmu dia-lah yang lebih mengetahui perihal siapa yang tersesat dari jalan-nya dan dia-lah yang lebih mengetahui orang-orangyang mendapat petunjuk." (qs. 16:125)
kita tidak mampu hidup sendirian terpisah dari masyarakat. Betapapun taatnya keluarga tersebut terhadap norma-norma ilahiyah, apabila sekitar lingkungannya tidak mendukung, pelarutan nilai akan lebih mudah terjadi, terutama pada anak-anak.

Oleh karena itu setiap anggota keluarga islami diharuskan memiliki semangat berdawah yang tinggi, sesuai dengan profesi utama setiap muslim yaitu dai. Suami harus dapat mengatur waktu yang seimbangan untuk allah s.w.t (ibadah ritual), untuk keluarga (mendidik keluarga serta bercengkrama bersama istri dan anak-anak), waktu untuk ummat (mengisi ceramah, mendatangi pengajian, menjadi pengurus mesjid, panitia kegiatan keislaman) dan waktu mencari nafkah. Begitu pula dengan istri harus diberi kesempatan untuk bekiprah di jalan dawah ini memperbaiki muslimah disekitarnya.

Bila pemahaman keislaman antara suami dan istri sekufu, maka tenaga untuk melaksanakan manuver dawah keluar akan lebih banyak, karena suami tidak perlu menyediakan waktu yang terlalu banyak untuk mengajari istrinya. Begitu pula istri mendukung dan memperlancar peran suami dengan ikhlas.
"dan orang-orang yang berkata: "ya rabb kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa." (qs. 25:74)

Kita dapat membaca sebagai rujukan rumah tangga islami yang telah dicontohkan oleh rosul s.a.w dan para sahabatnya.