Kisah Tragis Di Balik Pencipta Lagu Hymne Guru

Sartono , pencipta lagu Hyme Guru Pahlawan Tanpa Tanda Jasa (foto: dakwatuna.com)

Kalian pasti pernah menyanyikan lagu "Hymne Guru , Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" yang biasa dilantunkan saat upacara bendera pada hari Senin. Ya , lagu ini memang ditujukan untuk menghormati jasa para guru yang dikenal sebagai pendekar tanpa tanda jasa.

Terlepas dari semua itu , tahukah Anda bahwa lagu yang sering dilantunkan saat upacara bendera ini menyimpan dongeng tragis di balik penciptanya? Jika Anda tahu dongeng di balik terciptanya lagu ini , istilah "Pahlawan Tanpa Taanda Jasa" ini bahwasanya lebih menjurus pada kehidupan sang pencipta lagu , Sartono.

Laki-laki kelahiran Madium , 29 Mei 1936 itu hidup dengan penuh kesederhaan. Dia bekerja sebagai guru musik di SMP Purna Karya Bhakti Madium semenjak tahun 1978. Mirisnya , Sartono tetap menyandang guru honorer dengan gaji kecil hingga ia pensiun pada tahun 2002 silam.

Memang malang betul nasib Sartono mengabdi pada negara selama 24 tahun , tetapi tidak pernah diangkat jadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Dia memiliki gaji yang kecil yang tidak cukup membiayai hidupnya , ia juga tak memiliki gaji pensiun.


Sartono memang memiliki latar belakang pendidikannya yang hanya tamatan SMA. Namun alasannya ialah kehandalannya dalam bermain musik , ia diterima bekerja sebagai guru seni musik di SMP Purna Karya Bhakti , atau yang lebih dikenal sebagai SMP Nasrani Santo Bernadus.

Walaupun hidup serba susah , Sartono tetap bahagia hidup bersama istrinya , Damiyati , yang merupakan guru PNS. Dia menikah dengan istrinya pada tahun 1971.

Beberapa tahun kebelakang , Sartono dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dari gaji pensiunan sang istri yang mencapai Rp 1 juta. Ketika masih aktif mencar ilmu , Sartono hanya digaji Rp 60.00 per bulan.


Sementara lagu "Hymne Guru" mampu dibilang tercipta alasannya ialah ketidaksengajaan. Pada tahun 1980 , ia tak sengaja melihat wacana perihal sayembara penciptaan lagu hymne guru yang diselenggarakan Depdiknas. Hadiahnya lumayan besar saat itu , yakni Rp 750.000. Sartono pun memutuskan untuk ikut berpartisipasi dalam lomba ini.

Hanya dua ahad waktu yang tersisa untuk merampungkan lagu itu , Sartono pun harus cepat-cepat menyelesaikan lagu karangannya. Dia mencermati ibarat apa guru itu bahwasanya untuk menciptakan lirik-lirik lagunya.

Hingga alhasil Sartono berhasil menciptakan lagu karangannya. Namun problem belum selesai begitu saja , Sartono kebingungan bagaimana cara mengirim lagunya ke Jakarta alasannya ialah tidak punya uang untuk mengirim via pos.

Dia pun terpaksa menjual jasnya untuk membayar pengiriman via pos. Tak disangka-sangka , lagu karangan Sartono berhasil memenangkan lomba itu. Dia pun mendapatkan uang hadiah berupa cek dan eksklusif menggunakannya untuk membeli sepeda motor.

Meski lagu yang diciptakan Sartono melambung , namun ia tetap saja berstatus sebagai guru honorer hingga pensiun pada tahun 2002. Meskipun demikian , dia menikmati masa pensiunnya hingga dia meninggal pada 1 November 2015 lalu.


Sampai simpulan hayatnya , Sartono tetap gembira alasannya ialah lagu ciptaannya menjadi lagu "Hymne Guru". Beliau berharap pemerintah mampu paham dengan makna "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa" dalam lagu tersebut.

Bila melihat masa sekarang , memang masih banyak guru yang sudah lama bekerja tetapi masih berstatus sebagai guru honorer dengan upah seadanya dan tidak mendapat perhatian dari pemerintah. Padahal guru itu ialah kunci untuk mencerdaskan kehidupan bangsa , dan membawa sebuah negara menjadi maju.